WELCOME TO MY BLOG

WELCOME TO MY BLOG

Selasa, 12 Juni 2012

Askep Pada Klien Dengan Acalasia


BAB I
TINJAUAN TEORITIS
  
A.    PENGERTIAN
Akalasia merupakan gangguan atau hilangnya peristalsis esophagus dan kegagalan sfingter kardio-esofagus untuk relaksasi sehingga makanan tertahan di esophagus.
Achalasia adalah penyakit jarang yang mengenai otot esophagus. Kegagalan untuk relaksasi dan mengacu pada ketidakmampuan dari sfingter esophagus bawah untuk membuka dan membiarkan melewatinya masuk kedalam lambung.

B.     ETIOLOGI
Dasar penyebab akalasia adalah kegagalan koordinasi relaksasi esophagus bagian distal disertai peristalsis esophagus yang tidak efektif berdilatasi. Hasil penelitian menunjukkan kelainan persarafan parasimpatis berupa hilangnya sel ganglion di dalam pleksus Auerbach yang juga disebut pleksus mienterikus.
Ada teori-teori yang meliputi infeksi, keturunan atau abnormalitas system imun yang menyebabkan tubuh sendiri merusak esophagus.

C.     PATOLOGI
Segmen esophagus di atas dinding sfingter esofagogaster yang panjangnya berkisar antara 2-8 cm menyempit dan tidak mampu berelaksasi.
Esophagus bagian proksimal dari penyempitan tersebut mengalami dilatasi dan perpanjangan sehingga akhirnya menjadi megaesofagus yang berkelok-kelok. Bentuk esophagus ini sangat bergantung pada lamanya proses, bisa berbentuk botol, fusiform, sampai berbentuk sigmoid dengan hipertrofi jaringan otot sirkuler dan longitudinal.
Mokusa mungkin mengalami peradangan akibat rangsangan retensi makanan. Akalasia adalah salah satu faktor resiko untuk terjadinya karsinoma epidermoid. Karsinoma dapat terjadi pada 5% pasien yang tidak mengalami pengobatan, rata-rata 20 tahun setelah terdiagnosis.

D.    GAMBARAN KLINIS
Akalasia biasanya mulai pada dewasa muda walaupun ada juga yang ditemukan pada bayi dan sangat jarang pada usia lanjut. Gejala utama akalasia adalah disfagia, regurgitasi, rasa nyeri atau tidak enak di belakang sternum dan berat badan menurun. Lama gejala timbul sangat bervariasi dari beberapa hari sampai bertahun-tahun dan gejala makin berat secara perlahan-lahan.
Disfagia adalah gejala utama yang mula-mula dirasakan sebagai rasa penuh atau rasa mengganjal di daerah esophagus distal yang hilang timbul dan makin lama makin berat. Pasien akan makan secara perlahan-lahan dan selalu disertai minum yang banyak. Regurgitasi terjadi bila penyakit sudah lanjut dan sudah terjadi dilatasi esophagus bagian proksimal. Regurgitasi biasanya dirasakan pada waktu malam sehingga pasien bangun dari tidurnya. Makanan yang diregurgitasi tidak dicerna, tidak asam, dan baunya manis karena pengaruh ludah. Keadaan ini berbahaya karena dapat menimbulkan radang paru-paru akibat aspirasi. Keluhan nyeri umumnya tidak dominan. Mula-mula keadaan gizi baik dan baru mundur pada tahap lanjut.

E.     DIAGNOSIS
Pada pemeriksaan fisik tidak kelaianan yang berarti. Dengan anamnesis sebetulnya sudah dapat diduga adanya akalasia, walaupun demikian tetap harus dideferensiasi dengan penyakit keganasan, stenosis atau benda asing esophagus.

F.      PEMERIKSAN PENUNJANG
Pada esofagografi terdapat penyempitan daerah batas esofagogaster dan dilatasi bagian proksimalnya. Jika proses akalasia sudah lama, bentuk esophagus berubah menjadi berkelok dan akhirnya berbentuk huruf S.
Dengan pemeriksaan esofagoskopi dapat disingkirkan kelainan penyempitan karena struktur atau keganasan.
Pada akalasia terdapat gangguan kontraksi dinding esophagus sehingga pengukuran tekanan didalam lumen esophagus dengan manometri sangat menentukan diagnosis. Tekanan di dalam sfingter esofagogaster meninggi dan tekanan didalam lumen esophagus lebih tinggi daripada tekanan didalam lambung.

G.    KOMPLIKASI
a.       Pengurangan berat badan dan pneumonia aspirasi
b.      Sering terdapat peradangan esophagus / esofagitis karena efek iritasi dari makanan dan cairan yang terkumpul dalam esophagus pada periode waktu yang lama.
c.       Kemungkinan peningkatan kanker esophagus.

H.    PENATALAKSANAAN
Tujuan utama penatalaksanaannya adalah menurunkan tahanan sfingter esophagus bagian bawah terhadap bolus makanan dan hal ini dapat dicapai dengan cara dilatasi balon dan bedah esofagomiomotomi.
Diet dan obat-obatan untuk menghilangkan atau mengurangi kontraksi sfingter esophagus dan otot polos dinding esophagus dianjurkan pada tahap awal penyakit. Tindakan ini biasanya disertai dengan dilatasi. Tujuan melakukan dilatasi ialah membuat sfingter esophagus bagian terbuka dan otot-ototnya rusak.
Toksin botolinum adalah toksin yang bekerja menghambat pengeluaran asetilkolin di prasinaps pada serabut syaraf sehingga dapat menurunkan tonus otot sfingter esophagus. Meskipun demikian, terapi ini hanya berhasil pada dua pertiga pasien. Selain itu pula, botolinum hanya efektif untuk jangka pendek dan oleh karena itu, harus dilakukan penyuntikan berulang.
Dilatasi dilakukan dengan dilatators yang terdiri atas sonde dengan balon yang dapat diisi dengan udara atau air bertekanan  dengan tinggi sehingga otot sirkuler teregang dan robek. Dilatasi ini harus diulang sewaktu timbul gejala kembali. Hasil pengobatan dengan cara ini berhasil memuaskan pada 65% kasus; pada kurang dari 1% timbul koplikasi perforasi.
Bedah esofagomiotomi terdiri atas memotong otot esophagus pada arah sumbu esophagus sepanjang sfingter bawah, diluar mukosa. Hasil operasi ini cukup memuaskan. 
   

Asuhan Keperawatan Teoritis
A.    Pengkajian
1.      Identitas Klien
Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, tanggal masuk, alamat, nomor MR, Dll.
2.      Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya klien pernah mengalami penyakit saluran pencernaan atas.
b.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien mengalami disfagia, regurgutasi, rasa nyeri dibelakang sternum, anoreksia dan berat badan menurun.
c.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada atau tidaknya anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan klien.
3.      Pemeriksaan Fisik
a.       Kepala dan Leher
Biasanya hygiene kepela tetap terjaga dan pada leher biasanya tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening
b.      Mata
Biasanya konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik dan palpebra tidak oedema
c.       Hidung
Biasanya tidak ditemukan kelainan
d.      Mulut
Biasanya kebersihan mulut dan gigi tetap terjaga dan mukosa bibir kering
e.       Telinga
Bisanya tidak ditemukan kelainan
f.       Dada/Thorax
·         Paru-paru
I   : biasanya simetris kiri-kanan
P  : biasanya fremitus kiri-kanan
P  : biasanya sonor
A : biasanya vesikuler, ronchi tidak ada, wheezing tidak ada
·         Jantung
I   : biasanya Ictus tidak terlihat
P  : biasanya Ictus teraba 1 jari LMCS RIC V
P  : biasanya jantung dalam batas-batas normal
A : biasanya irama teratur
g.      Abdomen
I   : biasanya tidak asites, cekung
P  : biasanya Hepar dan lien tidak teraba
P  : biasanya Tympani
A : biasanya BU normal
h.      Genitourinaria
Biasanya tidak ada kelainan dan keluhan
i.        Ekstremitas
Biasanya tidak ada oedema
4.      Aktivitas Sehari-hari
a.       Nutrisi
Anoreksia, mual, muntah, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
b.      Istirahat/tidur
Rasa lemah, cepat lelah, aktivitas berat timbul sesak nafas, sulit tidur
c.       Eliminasi
Biasanya klien tidak mengalami gangguan
d.      Personal hygiene
Biasanya kebersihan klien tetap terjaga
B.     Fokus Intervensi
a.       Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat ditandai dengan mual muntah.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil : BB dalam batas normal
Intervensi :
·         Kaji kebutuhan nutrisi klien
·         Beri klien makan dalam porsi kecil tapi sering
·         Beri makanan dalam keadaan hangat
·         Beri klien motivasi agar mau menghabiskan makanan
                   Rasional :
·         Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi klien dapat dinilai sejauh mana kekurangan nutrisi klien dan menentukan langkah selanjutnya
·         Untuk mengurangi pemenuhan lambung dan memudahkan penyerapan
·         Makanan hangat diharapkan dapat mengurangi mual/muntah
·         Klien merasa diperhatikan dan berusaha menghabiskan makanannya

b.       Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sesuai tingkat toleransi dengan kriteria hasil : Klien dapat melakukan aktivitas sehari sesuai tingkat kemampuan.
Intervensi :
·         Kaji penyebab keletihan
·         Bantu klien memenuhi kebutuhan dasar
·         Berikan lingkungan yang tenang dan periode istirahat tanpa gangguan
·         Berikan lingkungan yang aman

Rasional :
·         Untuk mengetahui faktor yang menurunkn toleransi aktivitas
·         Memaksimalkan pemenuhan kebutuhan dasar klien
·         Menghemat energy untuk aktifitas
·         Menghindari cedera akibat kecelakaan
C.     Implementasi
Merupakan penerapan dari rencana tindakan yang telah disusun dengan prioritas masalah dan kegiatan ini dilakukan oleh perawat untuk membantu memenuhi kebutuhan klien dan mencapai tujuan yang diharapkan.
D.    Evaluasi
Merupakan tahap akhir dari proses keperawatan untuk menentukan hasil yang diharapkkan dari tindakan yang telah dilakukan dan sejauh mana masalah klien teratasi. Perawat jaga melakukan pengkajian ulang untuk menentukan tindakan selanjutnya bila tujuan tidak tercapai.



DAFTAR PUSTAKA
Carpenito L.J, 1997, Buku Saku Diaognosa Keperawatan, Edisi VI, EGC, Jakarta.
Doengoes, M.E, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III, EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar