WELCOME TO MY BLOG

WELCOME TO MY BLOG

Rabu, 13 Juni 2012

Askep Sindroma Nefrotik


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sindroma Nefrotik (SN) adalah keadaan dimana terjadi gangguan pada sistem filtrasi ginjal, yaitu terutama pada glomerulusnya. Dalam keadaan normal glomeruli ginjal berfungsi melakukan filtrasi terhadap protein yang akan dikeluarkan oleh air seni.Dua dari 10.000 orang mengalami sindroma nefrotik. Sindom Nerfrotik sulit tentukan pada usia dewasa, karena biasanya kondisinya menyerupai penyakit lain. Pada anak-anak, biasanya lebih banyak dialami oleh anak laki dibandingkan perempuan, usia antara 2 -3 tahun. Penyakit ini biasanya timbul pada 2/100000 anak setiap tahun. Primer terjadi pada anak pra sekolah dan anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan. Biasanya pada daerah endemik malaria banyak mengalami komplikasi sindrom nefrotik.
Menurut penelitian terdapat perbedaan bentuk sindrom nefrotik (SN) di Indonesia dengan di negara maju. Di negara maju sindrom nefrotik jenis kelainan minimal, pada sindroma nefrotik ini kelainan tubulus ginjal dengan glomerolus tidak mengalami gangguan fungsi. Di Indonesia, umumnya menurut dugaan penelitian disebabkan karena infeksi yang pernah diderita oleh pasien dan gangguan gizi. Kekurangan gizi mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang infeksi yang merupakan salah satu pencetus dari sindroma nefrotik.
B.       TUJUAN
1.      Tujuan umum
Mendapatkan gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada klien dengan sindrom nefrotik
2.      Tujuan khusus
a.       Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan sindrom nefrotik
b.      Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan
c.       Mahasiswa mampu membuat intervensi untuk klien sindrom nefrotik
d.      Mahasiswa mampu mengimplementasikan rencana tindakan yang telah dibuat
e.    Mahasiswa mampu mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan pada klien dengan sindrom nefrotik


BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Pengertian
Sindrom nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan fungsi ginjal ( Ngastiyah, 1997).
Penyakit ini terjadi tiba-tiba, terutama pada anak-anak. Biasanya berupa oliguria dengan urin berwarna gelap, atau urin yang kental akibat proteinuria berat ( Mansjoer Arif, dkk. 1999).
Nephrotic Syndrome merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injury glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik : proteinuria,  hypoproteinuria, hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema (Suryadi, 2001).
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh:
Ø  Peningkatan protein dalam urin secara bermakna (proteinuria)
Ø  Penurunan albumin dalam darah
Ø  Edema
Ø  Serum cholesterol yang tinggi (hiperlipidemia)
Tanda – tanda tersebut dijumpai disetiap kondisi yang sangat merusak membran kapiler glomerulus dan menyebabkan peningkatan permiabilitas glomerulus (Sukiane, 2002).

B.     Etiologi
Penyebab sindrom nefrotik yang pasti belum diketahui, akhir-akhir ini dianggap sebagai suatu penyakit autoimun, yaitu suatu reaksi antigen – antibodi. Umumnya etiologi dibagi menjadi :
1.      Sindrom nefrotik bawaan
Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resisten terhadap semua pengobatan. Prognosis buruk dan biasanya pasien meninggal dalam bulan-bulan pertama kehidupannya.
2.                  Sindrom nefrotik sekunder
Disebabkan oleh :
ü  Malaria kuartana atau parasit lainnya.
ü  Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura anafilaktoid.
ü  Glumerulonefritis akut atau kronik,
ü  Trombosis vena renalis.
ü  Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, air raksa.
ü  Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis membranoproliferatif hipokomplementemik.
3.      Sindrom nefrotik idiopatik
4.      Tidak diketahui sebabnya atau disebut sindroma nefrotik primer. Berdasarkan histopatologis yang tampak pada biopsi ginjal dgn pemeriksaan mikroskop biasa dan mikro Sindrom nefrotik idiopatik
skop elektron, Churk dkk membaginya menjadi :
a.       Kelainan minimal
Pada mikroskop elektron akan tampak foot prosessus sel epitel berpadu. Dengan cara imunofluoresensi ternyata tidak terdapat IgG pada dinding kapiler glomerulus.
b.      Nefropati membranosa
Semua glomerulus menunjukan penebalan dinding kapiler yang tersebar tanpa proliferasi sel. Prognosis kurang baik.
c.       Glomerulonefritis proliferatif
·         Glomerulonefritis proliferatif esudatif difus. Terdapat proliferasi sel mesangial dan infiltrasi sel polimorfonukleus. Pembengkanan sitoplasma endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat.
·         Dengan penebalan batang lobular.
Terdapat prolefirasi sel mesangial yang tersebar dan penebalan batang lobular.
·         Dengan bulan sabit ( crescent)
Didapatkan proliferasi sel mesangial dan proliferasi sel epitel sampai kapsular dan viseral. Prognosis buruk.
·         Glomerulonefritis membranoproliferatif
Proliferasi sel mesangial dan penempatan fibrin yang menyerupai membran basalis di mesangium. Titer globulin beta-IC atau beta-IA rendah. Prognosis buruk.
·         Lain-lain perubahan proliferasi yang tidak khas.
5.      Glomerulosklerosis fokal segmental
Pada kelainan ini yang mencolok sklerosis glomerulus. Sering disertai atrofi tubulus. Prognosis buruk.

C.    Patofisiologi
Terjadi proteinuria akibat peningkatan permiabilitas membran glomerulus. Sebagian besar protein dalam urin adalah albumin sehingga jika laju sintesis hepar dilampui, meski telah berusaha ditingkatkan, terjadi hipoalbuminemia. Hal ini menyebabkan retensi garam dan air.
Menurunnya tekanan osmotik menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler kedalam ruang cairan ekstra seluler. Penurunan sirkulasi volume darah mengaktifkan sistem imun angiotensin, menyebabkan retensi natrium dan edema lebih lanjut.
Hilangnya protein  dalam serum menstimulasi sintesis lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia).
Menurunnya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan disebabkan karena hypoalbuminemia, hyperlipidemia atau defisiensi seng.
Sindrom nefrotik dapat terjadi dihampir setiap penyakit renal intrinsik atau sistemik yang mempengaruhi glomerulus. Meskipun secara umum penyakit ini dianggap menyerang anak-anak, namun sindrom nefrotik juga terjadi pada orang dewasa termasuk lansia.

D.    Manifestasi Klinik
Gejala utama yang ditemukan adalah :
Ø  Proteinuria > 3,5 g/hari pada dewasa atau 0,05 g/kg BB/hari pada anak-anak.
Ø  Hipoalbuminemia < 30 g/l.
Ø  Edema generalisata. Edema terutama jelas pada kaki, namun dapat ditemukan  edema muka, ascxites dan efusi pleura.
Ø  Anorexia
Ø  Fatique
Ø  Nyeri abdomen
Ø  Berat badan meningkat
Ø  Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia.
Ø  Hiperkoagualabilitas, yang akan meningkatkan resiko trombosis vena dan arteri.

E.     Komplikasi
ü  Infeksi (akibat defisiensi respon imun)
ü  Tromboembolisme (terutama vena renal)
ü  Emboli pulmo
ü  Peningkatan terjadinya aterosklerosis
ü  Hypovolemia
ü  Hilangnya protein dalam urin
ü  Dehidrasi

F.     Pemeriksaan Diagnostik
v  Adanya tanda klinis
v  Analisa urin : meningkatnya protein dalam urin
v  Menurunnya serum protein
v  Biopsi ginjal


G.    Penatalaksanaan Terapeutik
o   Diit tinggi protein, diit rendah natrium jika edema berat
o   Pembatasan sodium jika anak hipertensi
o   Antibiotik untuk mencegah infeksi
o   Terapi diuretik sesuai program
o   Terapi albumin jika intake anak dan output urin kurang
o   Terapi prednison dgn dosis 2 mg/kg/hari sesuai program


I.       ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A.    Pengkajian
1.      Keadaan umum :
2.      Identitas : nama, usia, alamat, telp, tingkat pendidikan, dll.
3.      Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat penyakit saat ini
Biasanya klien datang dengan keluhan bengkak diseluruh tubuh dan ditemukan BB meningkat, edema periorbital, edema fasial, asites, distensi abdomen, anoreksia, fatique, jumlah dan frekuensi urine menurun.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Kemungkinan klien pernah mengalami dan menderita keluhan yang sama dengan riwayat kesehatan sekarang. Kemungkinan klien pernah menderita Malaria kuartana atau parasit lainnya. Penyakit kolagen seperti lupus eritematosus diseminata, purpura anafilaktoid. Glumerulonefritis akut atau kronik, Trombosis vena renalis. Bahan kimia seperti trimetadion, paradion, penisilamin, garam emas, air raksa. Amiloidosis, penyakit sel sabit, hiperprolinemia, nefritis membranoproliferatif hipokomplementemik.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga klien yang menderita penyakit keturunan seperti hipertensi, DM, gagal ginjal akut atau kronis, trauma glomerulus, dll.
4.      Pengkajian sistem
§  Pengkajian umum : TTV, BB, TB.
§  Sistem kardiovaskuler : irama dan kualitas nadi, bunyi jantung, ada tidaknya cyanosis, diaphoresis.
Riwayat sindrom nefrotik bisa terjadi syok karena kekurangan / kelebihan cairan sehingga jantung tidak mmpu lagi mensirkulasikan darah keseluruh tubuh.
§  Sistem pernafasan :  kaji pola bernafas, adakah wheezing atau ronki, retraksi dada, cuping hidung.
Dispnea, takipnea, pernafasan dangkal, ekspansi paru menurun
§  Sistem persarafan : tingkat kesadaran, tingkah laku ( mood, kemampuan intelektual,proses pikir ), Kaji pula fungsi sensori, fungsi pergerakan dan fungsi pupil.
§  Sistem gastrointestinal : auskultasi bising usus, palpasi adanya hepatomegali / splenomegali, adakah mual, muntah. Kaji kebiasaan buang air besar.
§  Sistem perkemihan : kaji frekuensi buang air kecil, warna dan jumlahnya.
§  Aktivitas / istirahat
Kelemahan, lelah, lesu, letargi, penurunan tonus otot

5.      Pengkajian keluarga
ü  Anggota keluarga
ü  Pola komunikasi
ü  Pola interaksi
ü  Pendidikan dan pekerjaan
ü  Kebudayaan dan keyakinan
ü  Fungsi keluarga dan hubungan
6.      Pemeriksaan penunjang
Biasanya ditemukan Proteinuria > 3,5 g/hari pada dewasa atau 0,05 g/kg BB/hari pada anak-anak. Hipoalbuminemia < 30 g/l. Hiperlipidemia, umumnya ditemukan hiperkolesterolemia. Hiperkoagualabilitas. Lipiduria.

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko kurangnya volume cairan (intravaskuler) b/d proteinuria, edema dan efek diuretik.
2.      Resiko kelebihan volume cairan b/d retensi sodium dan air.
3.      Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik

C.    Intervensi Keperawatan
  1. Resiko kurangnya volume cairan (intravaskuler) b/d proteinuria, edema dan efek diuretik
a.       Tujuan : cairan tubuh seimbang
b.      Kriteria hasil :
·         Mukosa mulut lembab
·         Turgor kulit bagus
·         Tanda vital stabil
c.       Intervensi :
Ø  Monitor intake dan output
R/ evaluasi harian keberhasilan terapi dan dasar penentu tindakan
Ø  Monitor tanda-tanda vital
R/ perubahan tekanan darah dan nadi dapat digunakan untuk perkiraan kadar kehilangan cairan, hipotensi postural menunjukkan penurunan volume sirkulasi
Ø  Anjurkan tirah baring atau istirahat
R/ aktivitas berlebih dapat meningkat kebutuhan akan cairan.
Ø  Kaji membran mukosa mulut dan elastisitas turgor kulit
R/ mengevaluasi sejauh mana pasien mengalami kekurangan caiaran
Ø  Berikan cairan sesuai indikasi 
R/  penggantian cairan tergantung dari berapa banyaknya cairan yang hilang atau dikeluarkan.


  1. Resiko kelebihan cairan b/d retensio sodium dan air
a.       Tujuan : Volume cairan tubuh seimbang
b.      Kriteria hasil :
·         BB stabil
·         Tanda vital dalam batas normal
·         Tidak ada edema

c.   Intervensi :
Ø  Monitor intake dan output
R/ evaluasi harian keberhasilan terapi dan dasar penentu tindakan
Ø  Monitor tekanan darah
R/ tekanan darah dapat menjadi indikator regimen terapi
Ø  Timbang berat badan tiap hari dalam skala yang sama.
R/ Estimasi penurunan edema tubuh
Ø   Berikan cairan secara hati-hati dan diet rendah garam.
R/ Mencegah edema bertambah berat
Ø  Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari.
R/ Pembatasan protein bertujuan untuk meringankan beban kerja  hepar dan mencegah bertambah rusaknya hemodinamik ginjal.
 
 .          3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik
a.       Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sesuai tingkat toleransi
b.       kriteria hasil : Klien dapat melakukan aktivitas sehari sesuai tingkat kemampuan.
Intervensi :
Ø  Kaji penyebab keletihan
R/ Untuk mengetahui faktor yang menurunkan toleransi aktivitas
Ø  Bantu klien memenuhi kebutuhan dasar
R/ Memaksimalkan pemenuhan kebutuhan dasar klien
Ø  Berikan lingkungan yang tenang dan periode istirahat tanpa gangguan
R/ Menghemat energy untuk aktifitas
Ø  Berikan lingkungan yang aman
R/ Menghindari cedera akibat kecelakaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar